Postingan

Jajaran Gedung Putih

Bandung, 06 Juli 2017 Kala itu, aku bertanya padamu Apakah kota ini banyak berjajaran gedung putih sayang? Jawabmu tidak Bahkan kau menyebut lebih bertebaran warna biru yang melangit Disetiap hiasan kota Kutelaah dengan seksama Pandanganku tertuju pada indahnya jajaran gedung putih itu Ada nuansa berbeda yang tercipta Sayang, itu jajaran gedung putih yang kumaksud Disepanjang jalan Asia Afrika Saat kita duduk berdua

Retak

Citeureup, 22 Juni 2017 Bercumbu dengan pilu Yang menjelma sendu Diantara retakan bayang-bayang kelabu Terjerunuk caci Hingga hati yang kemudian mati

Dari Etalase Kamar

Citeureup, 20 Juni 2017 I Terdengar gemuruh mercon yang kian menggelegar Diiringi teriakan riang si kecil Diantara gelapnya malam Menari riang bersama sang bintang II Dari etalase kamar Aku mengintip dengan sedikit senyuman Memalingkan pandanganku dari titik hitam sampai tertuju Pada gemericik api yang riang III Gemuruh mercon menghiburku Walau hanya terdengar Dari balik etalase kamarku

Sajak Untuk Pelakon

Citeureup, 20 Juni 2017 Menjelma siapa di atas panggung? Tubuh hilang Terasing Muka lusuh Hati tak terenyuh Ini bukan soal bagaimana aku Tetapi kali ini siapa aku?

Sepenggal Rindu Yang Tertinggal

Citeureup, 20 Juni 2017 I Berbisik pada langit Mengulum senyum berbinar pesona jiwa Mengabarkan padanya ada yang tertinggal Di penghujung kota istimewa II "Titipku padamu", katanya sambil menepak bahu Hanya saja sepotong kata itu yang terpenggal Terucap kaku dari bibir merah Yang sering kulihat III Mengulik dengan sadar Pada bisikan-bisikan yang langit katakan Terlukis indah Namun sendu yang kutemukan IV Ternyata, Ada sepenggal rindu yang tertinggal Diantara barisan-barisan cerita yang berjajar Diantara bait-bait sajak yang tercipta Dan harus kau tahu Sepenggal rindu  itupun Tertinggal diantara dialog sandiwara yang tak berujung..

Pembual Berkedok Malaikat

Si kurus dari penghujung Madura, berlagak angkuh saat menyuarakkan suaranya, menenteng tangan,  menengadahkan muka dengan kepala besar. Ia duduk di ujung bangku diantara remang merah lampu Gelanggang di tempat yang ia jadikan singgasana. Badan meringkuk, dengan busana tipis yang kusut tak beraturan. Aku katakan ia seorang pembual berkedok malaikat, yang mengaku mengenali Abu Sayyaf yang ia ceritakan sebagai teroris dari pulau Luzon, Philiphina. Dan ia katakan pula, ialah sosok yang lahir dari rahim kelompok PKI yang dapat membunuh siapa saja yang tak ia sukai. Pembual berkedok malaikat itu merangkak perlahan, menyetubuhi daging-daging penghangat yang ia temukan dengan pikiran-pikiran kacau, celotehan rata tak biasa. Aku tertipu oleh si Pembual berkedok malaikat, kedok badut yang ia pampangkan menutupi setiap cerutan kotor yang membalutinya. "Aku ini seorang anak yang lahir dari keluarga PKI", katanya sambil berbisik. Aku sebagai gadis kecil polos yang dengan mudah menang...

Cerita Di Stasiun Lempuyangan

Selamat sore, Hun. Selembar tiket kereta ekonomi kugenggam erat Menyeret koper merah dengan kepongahan Ini kali pertama aku menginjakkan kaki Di simpangan jalan Stasiun Lempuyangan. Aku nyaris terperangah, Hun. Bentuk panjang dengan beberapa gerbong bukan saja kulihat kali ini Hal ini biasa, namun ada yang membuatnya istimewa. Ini kali pertama kepulanganku, Bercelinguk sana sini Diserang gundah tak berujung Tapi, Hun. Pulangku bukan untukmu Namun untuk kekasihku yang baru.